HATI-HATILAH MEMAKAI GELAR HAJI

Posted on

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bersyukurlah kita sebagai umat Islam,karena Islam adalah satu-satunya agama yang telah disempurnakan dan diridhoi oleh Allah Oleh karena itu wujudkan rasa syukur kita kepada Allah dengan melaksanakan agama Islam ini dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninyamembersihkan agama ini dari amalan-amalan sesat,bid’ah dan yang mengandung kesyirikan.Yaitu dengan melaksnakan Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW,dan yang telah diamalkan oleh para sahabat dan orang-orang saleh yang terdahulu dan di masa sekarang.
Salawat tak lupa pula kita kirimkan kepada Rasulullah SAW yang merupakan guru besar kita dalam beragama kita.Pengakuan kita sebagai umat Muhammad SAW bukan hanya dengan mengirimkan salawat kepadanya,melainkan dengan mentaati atau mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya atau kalau memiliki ilmu maka dakwahkanlah Islam yang benar kepada saudara-saudara kita.
ulis uzt
Pada kesempatan ini,kami hadir di hadapan saudara-suadara untuk mengingatkan salah satu tradisi masyarakat antara lain memakai gelar haji.
Telah menjadi tradisi bagi sebagian umat Islam di tanah air kalau telah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah atau setelah wukup di Arafah maka mereka menambah namanya dengan gelar haji (H) bagi laki-laki dan gelar hajjah (Hj) bagi wanita. Mereka pun saling menyapa dengan sebutan “Pak Haji” atau “Ibu Haji/Ibu Hajjah”.gelar itupun di bawah pulang ke tanah air sebagai nama sapaan masyarakat terhadap orang-orang yang telah melasanakan rukun Islam yang kelima ini.
Gelar haji dipakai untuk berbagai keperluan dan penulisan,antara lain ditulis di pintu rumah, pada penulisan undangan dan atau surat-surat penting dan disebut pada pertemuan-pertemuan penting.Dan bahkan dinisan kuburannya pun ditulis nama beserta gelar hajinya. Pemakaian gelar hajii merupakan pemberitahuan kepada masyarakat luas bahwa dirinya telah melaksakan rukun Islam yang kelima atau untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat bahwa dirinya adalah seorang haji atau sama dengan memamerkan ibadah kepada orang lain padahal ibadah hajinya itu belum tentu mabrur.Makanya ada yang marah bila tidak disebut gelar hajinya atau tidak ditulis gelar hajinya dalam penyebutan atau penulisan namanya karena dianggap tidak diakui kehajiannya.Bahkan, yang bersangkutan sendiri yang menyebut atau menulis gelar hajinya.Jadi seakan-akan mereka menganggap bahwa gelar haji wajib dipakai bagi seseorang yang telah menunaikan ibadah haji dan diragukan kehajian orang-orang yang tidak mau memakai gelar haji padahal telah melaksanakan ibadah haji.
Gelar haji menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi seseorang sebagai orang yang mampu dan sebagai orang yang telah sempurna keislamannya,sehingga mereka dalam masyarakat kadang memperoleh perlakuan yang agak istimewa dibanding dengan orang lain yang belum atau yang tidak bergelar hari.Hal ini sangat terasa kalau ada pesta-pesta atau pertemuan,yang biasanya pak haji atau ibu hajjah diberi tempat/kedudukan yang lebih atas atau di depan.

SAUDARA-SAUDARA PENCINTA SUNNAH YANG DIRAHMATI ALLAH,
Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima.Rukun Islam atau ibadah lainnya adalah mengucapkan dua kalimat sahadat,mendirikan shalat,berpuasa di Bulan Ramadhan dan mengeluarkan zakat.Rukun Islam atau ibadah ini adalah ibadah dalam hubungan kita dengan Allah yang membutuhkan keikhlasan,artinya dilakasanakan semata-mata karena mengharap ridho atau rahmat dari Allah,bukan mengharap pengakuan dari sesama manusia.Hanya kita dan Allah yang tahu keikhlasan kita.Sebelum dan sesudah melasanakan suatu ibadah,kita tidak perlu memberitahukan orang lain,karena bukan orang lain yang akan menilai ibadah kita,justru memberitahukan pada orang lain atas ibadah yang akan atau yang telah kita lakukan dengan maksud agar orang lain mengetahui dan mengakuinya adalah termasuk riya,bukankah riya’ itu bisa merusak ibadah ?.
Rasulullah SAW adalah suri teladan umat Islam dalam melaksanakan syariat Islam.Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan atau memberi contoh pemakaian gelar-gelar ibadah haji. Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah orang-orang yang memahami Islam.Mereka yang lebih duluan melakukan ibadah haji,tetapi adakah mereka memakai gelar haji ?,tentu tidak ada.Begitupun para tabiin,tabiut tabiin dan imam-imam mazhab tidak ada yang memakai gelar haji padahal mereka semua telah menunaikan ibadah haji. Kalau saja pemakaian gelar ibadah itu dibolehkan,maka mengapa tidak sekalian memakai gelar ibadah lainnya, Shalat (S), Puasa (P) atau Zakat (Z).
Yang dinilai oleh Allah dari ibadah kita adalah keikhlasan dan ketepatan pelaksanaannya.Para malaikat tidak akan menulis gelar haji kita dibuku catatan amal,tidak akan memanggil nama kita beserta gelar haji kita,dan Tuhanpun demikian tak akan mengakui gelar ibadah yang tidak pernah diajarkannya,apalagi bila gelar itu membuatnya riya’,sombong lagi membangga-banggakan diri.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membangga-banggakan diri (QS.Qashshas:76).
Bagi umat Islam yang menginginkan ibadah hajinya diterima oleh Allah maka harus menjaga atau memperhatikan dua syarat diterimanya ibadah,yaitu;
1. Dilaksanakan dengan ikhlas,yaitu dilaksanakan semata-mata mengharap ridho,rahmat,balasan atau pengakuan dari Allah dan tidak pada selain Allah.Mengharap balasan akhirat dan tidak mengharap balasan dunia.
Beberapa dalil yang memerintahkan kita untuk ikhlas beribadah kepada Allah,antara lain:
“Sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al Mukmin:14)
“Sesungguhnya amal perbuatan itu (tergantung) pada niatnya,dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan” (HR. Bukhari).
2. Dilaksanakan sesuatu dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah suri teladan umat Islam,Nabi SAW tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan pemakaian gelar haji bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji.
Berdasarkan kedua syarat di atas,maka jelaskah bahwa memakai gelar haji tidaklah memberi manfaat bagi pemakai,tetapi sebaliknya justru kemudharatan yang akan diperolehnya,antara lain:
1. Bakal merusak pahala atau bahkan membuat ibadah haji ditolak,bilamana niat kita berhaji hanya untuk memperoleh gelar,memperoleh pengakuan dari manusia sebagai umat yang sempurna keislamannya dan pengakuan sebagai orang yang mampu.
2. Memakai gelar haji berarti mengungkap-ungkap/menyebut-nyebut ibadah yang telah dilakukan kepada sesama manusia.Menyebut-nyebut ibadah yang telah dilakukan kepada sesama manusia adalah termasuk pamer ibadah riya’ sedangkan riya’ menurut Rasulullah SAW termasuk syirik kecil.Hanya Allah yang tahu ibadah haji kita,diterima atau tidak,olehnya itu tidak perlu diungkap-ungkap kepada sesame manusia.
3. Dapat menimbulkan kesombongan atau sikap membangga-banggakan diri,sedangkan ini adalah termasuk sifat yang amat dibenci oleh Allah.Sombong dapat membuat seseorang menjadi penghuni neraka.

SAUDARA-SAUDARA PENGIKUT RASULULLAH SAW YANG DIRAHMATI ALLAH
Akhirnya kami menyimpulkan bahwat tidak disyariatkan dalam Islam menjadikan ibadah sebagai gelar seseorang,karena hal seperti itu bisa mengarah kepada riya’ dan kesombongan yang bisa merusak pahala ibadah haji.Oleh karena itu,memakai gelar haji bagi orang yang telah menunaikan ibadah haji termasuk bid’ah,setiap bid’ah adalah sesat dan segala kesesatan balasannya adalah neraka (HR.Muslim).
Gelar haji tidak dipakai oleh Rasulullah SAW,tidak pula oleh para sahabat,para tabiin dan tabiut tabiin serta tidak pula para imam mazhab.Oleh karena itu sebaiknya kita menjadikan mereka sebagai contoh dengan tidak memakai gelar haji.
Sebaiknya orang yang memahami bahwa memakai gelar haji adalah bid’ah tidak membiasakan diri memanggil atau menyapa seseorang dengan memakai gelar haji,karena tindakan seperti itu termasuk pengakuan tentang adanya gelar haji dalam Islam,padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengakui penggunaan gelar ibadah.
Bagi umat Islam yang benar-benar mengharapkan ridho,rahmat dan balasan haji,maka laksanakanlah ibadah haji dengan ikhlas,tanpa harus memamerkannya kepada orang lain,karena ibadah haji itu adalah urusan kita dengan Allah dan bukan urusan dengan sesama manusia dinilai oleh Allah dan bukan dinilai oleh Allah.Mengharap pengakuan Allah dan bukan pengakuan sesama manusia.Mengharap balasan dari Allah dan bukan balasan dari sesama manusia.
Semoga tulisan ini memberi manfaat bagi kita semua terutama bagi penulis sekeluarga,yang kemamfaatan dalam mengaruh hidup di atas sunnah,karena hanya sunnahlah jalan yang benar menuju keridhoan Allah.(Palajau,24 Mei 2015).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s