MITOS BULAN MUHARRAM

Posted on Updated on

Oleh:Ella’ Sahabuddin
katakan allah itu esa

Sebahagian besar umat Islam di negeri ini,termasuk di daerah Jeneponto ini-yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan-sangat percaya mitos Bulan Muharram (Bulan Suro dalam penanggalan Jawa).Mereka percaya pada kesialan-kesialan bila melakukan suatu hajatan di Bulan Muharram. Mereka menghindari Bulan Muharram untuk melakukan hajatan pernikahan,mendirikan atau pindah rumah,atau khitanan anak.Mereka sudah diliputi rasa takut akan datangnya kesialan bila melakukan hajatan di bulan tersebut,seperti perceraian atau kematian pasangan,kemiskinan,kebakaran rumah dan berbagai kecelakaan yang bakal menimpa. Mungkin bisa dimaklumi kalau orang-orang yang tidak pernah menduduki bangku sekolah mempercayai mitos Bulan Muharram,tetapi sangat disayangkan bila kepercayaan yang bersumber dari prasangka nenek moyang ini juga merusak akal dan akidah orang-orang yang berpendidikan,apalagi bila menjangkiti guru-guru/tokoh agama kita.
Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW menyuruh kita untuk menuntut ilmu,karena dengan ilmu kita bisa mengenal kebenaran dan bisa membedakannya dengan kebatilan.Bukankah Allah SWT melarang kita mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan,atau menyembunyikan kebenaran padahal kita mengetahuinya ?(QS.Al Baqarah:42).Dan kita sudah sering mendengar perkatakaan bahwa agama tanpa ilmu akan sesat.Sebagai umat Islam,tentu menjadi pertanyaan adakah keterangan dari Allah SWT dan Rasul-Nya tentang kesialan Bulan Muharram ?.
Tidak ada keterangan Allah dalam wahyu yang diturunkannya bahwa di antara waktunya yang 12 bulan itu ada yang baik dan ada buruk/sial.Semuanya sama yang di dalamnya terjadi peristiwa yang berpasangan,yaitu kebaikan dan keburukan.Kebaikan dan keburukan itu sebagai ujian yang menimpa seseorang sesuai dengan takdirnya.Melalui Al Quran, Allah bersumpah dengan menggunakan waktu: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menepati kesabara” (Q.S. Al Asr : 1-3).Dari ayat tersebut,jelaslah bahwa tidak ada waktu yang sial yang membawa kerugian bagi manusia,justru yang sial adalah manusia yang menyia-nyiakan waktu,mengisi waktu dengan perbuatan maksiat atau yang tidak bermanfaat dalam hidupnya.

38
Allah SWT telah menciptakan waktu,siang dan malam,semuanya untuk manusia.Siang maupun malam akan membawa keberuntungan bagi yang memanfaatkannya untuk kepentingan hidupnya di dunia dan di akhirat, misalnya : “Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya” (Q.S. Ar Ruum : 23).“Dan karena Rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya” (Q.S. Al Qashash : 73). Waktu siang dipakai untuk bekerja dan menjalankan ibadah, yang di antaranya ada waktu khusus yang dimuliakan Allah untuk melaksanakan suatu ibadah seperti waktu Dhuha. Waktu malam yang dipakai untuk istirahat dan menjalankan ibadah, yang diantaranya ada waktu yang dimuliakan Allah seperti malam yang sepuluh (di Bulan Ramadhan) malam bila berlalu (sepetiga malam terakhir), fajar subuh dan sebelum terbit matahari.
Banyak di antara kita tanpa dasar ilmu menghubung-hubungkan antara waktu pelaksanaan hajatan dengan peristiwa buruk yang menimpah sesudahnya. Dengan hanya berdasarkan prasangka menyalahkan waktu,misalnya gara-gara menikah di Bulan Muharram sehingga bercerai, gara-gara mendirikan rumah di Bulan Muharram sehingga rumah itu terbakar.
Kepercayaan pada kesialan yang terkandung dalam Bulan Muharram hanyalah sebuah mitos,yaitu keperbacayaan yang lahir dari prasangka tanpa ada kebenaran yang dikandung di dalamnya.Allah yang menciptakan waktu tidak pernah menurunkan keterangan tentang adanya waktu yang sial.Justru dalam Al Quran,Allah menyatakan bahwa Bulan Muharram adalah satu dari empat bulan hijriah yang dimuliakan Allah,yang didalamnya diharamkan melakukan kecurangan,penganiayaan atau pertumpahan darah manusia.Dan Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah,Muharram.
Kebenaran datangnya dari Allah, bahwa segala kesialan atau keburukan yang menimpa suatu negeri atau kaum disebabkan karena berlakunya ketetapan Allah yang telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfudz (Q.S. Al Hadid : 22), atau “Apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Q.S. An Nisaa : 79), atau “Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kapada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka” (Q.S. Al Maaidah : 49), atau “Sesungguhnya kami akan menurunkan adzab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik” (Q.S. Al Ankabut : 34), atau “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (Q.S. Ar Ruum : 41).
Dari ayat-ayat tersebut jelaslah bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpa manusia karena takdir yang telah ditetapkan Allah baginya telah berlaku.Dan takdirnya itu telah tercatat jauh sebelum terciptanya langit dan bumi.Dan segala peristiwa itu ada hikmahnya bagi manusia,antara lain sebagai ujian atau sebagai teguran agar manusia tersebut sadar atas dosa-dosanya dan kembali ke jalan Allah.Keburukan yang menimpa manusia bukan karena kesalahan waktu melainkan kesalahan manusia itu sendiri.
Alangkah ruginya seorang penuntut ilmu yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi dengan meraih gelar kailmuan lantas tidak dipergunakan akalnya untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah, melainkan mengikuti prasangka-prasangka orang banyak yang bersumber dari kebodohan orang-orang zaman jahiliyah (pra Islam). Peredaran waktu adalah salah satu tanda kekuasaan Allah.Waktu adalah masa berlakunya kekuasaan dan ketetapan- ketetapan Allah atas diri makhluk-Nya. Ketetapan Allah itu telah tertulis dalam Kitab LAuh Mahfudz jauh sebelum diciptakannya langit dan bumi (Q.S. Al Hadid :22).
Bukalah mata hatimu dan lihatlah peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi ini terhadap alam atau terhadap manusia. Keberuntungan ( kebaikan) dan kesialan (keburukan) silih berganti. Di hari yang sama sebagian manusia meraih keuntungan dan sebagian lainnya meraih kerugian/keburukan. Ada yang lahir dan ada yang mati, ada yang menikah dan ada yang bercerai, ada yang bergembira dan ada yang bersedih.Tidak ada satu pun hari yang di dalamnya semua manusia meraih keberuntungan dan tidak pula semuanya meraih kesialan.Tidak ada yang bisa menghilangkan kesialan yang hendak didatangkan oleh Allah kepada manusia kecuali Allah sendiri (QS.Ar Rad:11 ).Jadi berusaha menghindari kesialan atau mendatangkan keberuntungan dengan memilih waktu baik dan menghindari waktu buruk hanyalah sebuah kesesatan yang mengada-ada dalam beragama yang kelak Allah akan membalasnya (QS.Al An Aam:138 )
Bukalah mata hatimu dan lihatlah kenyataan-kenyataan dalam masyarakat. Misalnya sepuluh orang melangsungkan pernikahan dalam waktu yang sama (baik), apakah rumah tangga mereka dijamin sama dalam keberuntungan. Kenyataannya ada yang kaya (untung), ada yang miskin (sial), ada yang akur (untung), ada yang bercerai (sial), ada yang membeli kendaraan (untung), dan ada yang ditabrak kendaraan (sial). Kalau saja ada waktu yang membawa keberuntungan tentu tidak akan ada perceraian, rumah tangga yang miskin atau janda dan duda muda. Kenyataannya, semuanya mengikuti takdirnya masing-masing,yang ditetapkan baginya pasti terjadi dan yang tidak dtetapkan baginya pasti tidak akan terjadi (QS.At Taubah:51).
Mencela waktu tertentu yang telah diciptakan Allah telah ada sebelum diutusnya Muhammad mengajarkan Islam. Banyak orang-orang jahiliyah yang tersesat karena mempercayai keberuntungan dan kesialan yang dikandung oleh waktu.Kalau hendak melakukan suatu hajatan berbondong-bondong dulu ke rumah dukun atau orang yang dianggap pintar menanyakan waktu yang baik.Dukun atau orang sok pintarpun memberinya waktu yang baik dan mengatakan waktu yang ini adalah buruk/sial. Maka Rasulullah SAW melarang kepada seluruh umat Islam untuk mencela waktu. Larangan ini berlaku sejak Rasulullah SAW masih hidup pada hari kiamat. Dalam sebuah Hadist Qudsi Allah berfirman : manusia menyakiti Aku, dia mencela waktu, padahal Aku-lah (pemilik/pengatur) waktu.Aku-lah yang mengatur malam dan sang silih berganti” (HR. Muntafaq alaih). Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah mencela waktu, karena sesungguhnya Allahlah yang menciptakan waktu” (HR.Muslim). “Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya berarti kufur terhadap Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad” (HR.Ahmad).“Bukan umatku, orang yang mempercayai tanda-tanda keberuntungan dan tanda-tanda kesialan” (HR. Al Bazaar ).Allah melarang kita mempercayai ramalan-ramalan,bahwa bila melakukan sesuatu di waktu begini atau begitu akan terjadi suatu keburukan. Hari esok kita ada dalam pengetahuan Allah yang dirahasiakannya (gaib).Tidak seorangpun manusia yang tahun tentang hari esoknya kecuali Allah (QS. An Naml:65).
Kebanyakan manusia mempercayai waktu baik dan waktu buruk hanya karena ikut-ikutan pada kepercayaan nenek moyang atau orang banyak, padahal Allah telah mengingatkan manusia agar :
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya, sesungguhya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban” (Q.S. Al Israa : 36).“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka” (Q.S. Al An’aam : 116). “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (Q.S. An Najm : 28).
Wahai saudaraku seagama Islam,semua waktu siang dan malam dicptakan oleh Allah untuk kita untuk mengusahakan kehidupan dunia dan akhirat.Untuk kehidupan dunia,siang untuk berusaha dan malam untuk Istrahat,sedangkan untuk kehidupan akhirat semua waktu bisa bernilai ibadah bila diisi sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.Janganlah mau terpedaya oleh orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan yang benar.Katakanlah bahwa Bulan Muharram adalah bulan baik yang mendatangkan kebaikan bila diisi dengan kebaikan.Mendatangkan keburukan bila diisi dengan keburukan.(Palajau,Nop.2013).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s