HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA

Posted on Updated on

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Alhamdulillahi Rabbil Alamin,wassalatu wassalam ala nabiyullah SAW wa ala alihi wa jamaah muslimin wal muslimat.ammabaadu
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan sebenar-benarnya, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta dengan mensyukuri segala nikmat-Nya,antara lain nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kita masih bisa memasuki bulan ramahdan tahun ini untuk memperbaiki dan memperbanyak bekal ke negeri akhirat..
Shalawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dan senantiasa taat kepada-Nya.Pada kesempatan ini saya akan membawakan ceramah yang berjudul HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA
dirga makan
Ma’asryl muslimin wal muslimat rahimakumullah
Ada sejumlah maasalah yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa. Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama. Namun ada pula hanya sekadar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa fatwa ulama diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan tentang hal-hal masalah-masalah yang diperselisihkan tentang pembatal-pembatal puasa.Ada tiga hal penting yang perlu kita ketahui sebagai aturan pokok berpuasa,yaitu:
1. Puasa adalah menahan lapar,haus dan nafsu birahi pada siang hari mulai dari terbit fajar sampai terbenangnya matahari.
2. Puasa dilakukan dengan sengaja,maka sesuatu yang menjadi pembatal dapat membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja dan tanpa paksaan.
3. Pembatal puasa adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi hilangnya rasa lapar,haus dan terpenuhinya nafsu birahi,atau yang telah dinyatakan oleh suatu dalil sebagai pembatal puasa.
Ma’asryl muslimin wal muslimat rahimakumullah

Bersadarkan ketiga hal di atas maka ada beberapa hal yang dianggap sebagian diantara kita sebagai pembatal puasa padahal sebenarnya tidak membatalkan puasa,yaitu:
1. Makan,minum yang dilakukan tidak sengaja,lupa atau dipasksa,atau dipaksa bersetubuh tidak membatalkan puasa. Begitu pula orang yang tidak tahu dari sisi waktunya, seperti orang yang menunaikan sahur setelah terbit fajar dalam keadaan yakin bahwa waktu fajar belum tiba.
2. Orang yang muntah bukan karena keinginannya (tidak sengaja) tidaklah batal puasanya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits:
مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عـَليَهِ قَضَاءٌ، وَإِنِ اسْـتَقَاءَ فَلْيَـقْضِ
“Barang siapa yang muntah karena tidak disengaja, maka tidak ada kewajiban bagi dia untuk mengganti puasanya. Dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya.” (HR. Abu Dawud, )
Oleh karena itu, orang yang merasa mual ketika dia menjalankan puasa, sebaiknya tidak memuntahkan apa yang ada dalam perutnya karena hal ini akan membatalkan puasanya. Jangan pula dia menahan muntahnya karena ini pun akan berakibat negatif bagi dirinya. Maka biarkan muntahan itu keluar dengan sendirinya karena hal tersebut tidak membatalkan puasa.
2. Menelan ludah yang tidak bisa dihindari dan akan sangat memberatkan tidaklah membatalkan puasa. Adapun dahak, wajib untuk diludahkan apabila telah berada di rongga mulut dan tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk menelannya karena hal itu memungkinkan untuk dilakukan dan tidak sama dengan ludah.”
Ma’asryl muslimin wal muslimat rahimakumullah
4. Keluar darah bukan karena keinginannya seperti luka, atau karena keinginannya namun dalam jumlah yang sedikit, tidaklah membatalkan puasa. Tetapi pengambilan darah dalam jumlah yang banyak jika berakibat lemahnya badan dan membutuhkan zat makanan, maka membatalkan puasa.Maka, orang yang keluar darahnya akibat luka di giginya baik karena dicabut atau karena terluka giginya tidaklah batal puasanya. Namun dia tidak boleh menelan darah yang keluar itu dengan sengaja. Begitu pula orang yang dikeluarkan sedikit darahnya untuk diperiksa golongan darahnya tidaklah batal puasanya.
5. Pengobatan yang dilakukan melalui suntik arena sesuatu hal yang mengharuskannya disuntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan, Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena berfungsi sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan.. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa.
6. Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa selama tidak keluar air mani meskipun mengakibatkan keluarnya madzi. Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits sahih yang artinya, “Dahulu Rasulullah n mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa dan memeluk (istrinya) dalam keadaan beliau puasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya di antara kalian.” (HR. Bukhari).akan tetapi bagi orang yang mengkhawatirkan keluarnya mani dan terjatuh pada perbuatan jima’ karena syahwatnya yang kuat, maka yang terbaik baginya adalah menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan atau minum, tetapi juga meninggalkan syahwatnya. Rasulullah n bersabda:
7. Menggosok gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa. Namun dia harus menjaga agar tidak ada yang tertelan ke dalam kerongkongan, sebagaimana diperbolehkan bagi dirinya untuk berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak terlalu kuat agar tidak ada air yang tertelan atau terhisap. Namun seandainya ada yang tertelan atau terhisap dengan tidak sengaja, tidaklah membatalkan puasa
8. Menyiram kepala dan badannya dengan air untuk mengurangi rasa panas atau haus tidak membatalkan puasa. Bahkan boleh pula untuk berenang di air dengan selalu menjaga agar tidak ada air yang tertelan ke kerongkongan.
9. Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa, dengan menjaga jangan sampai ada yang masuk kerongkongan.
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas ra dalam sebuah atsar, “Tidak apa-apa bagi seseorang untuk mencicipi cuka dan lainnya yang akan dia beli.” (Atsar ini dihasankan asy-Syaikh al-Albani di al-Irwa’ no. 937)
Demikian beberapa hal yang bisa kami ringkaskan dari penjelasan para ulama. Yang paling penting bagi setiap muslim, adalah meyakini bahwa Rasulullah n tentu telah menjelaskan seluruh hukum yang ada dalam syariat Islam ini. Maka, kita tidak boleh menentukan sesuatu itu membatalkan puasa atau tidak dengan perasaan semata. Bahkan harus mengembalikannya kepada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta penjelasan para ulama.Rasullah SAW bersabda: “Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan.” (HR. at-Tirmidzi).Wallahu a’lam bish-shawab.Kalau ada yang benar itu datangnya dari Allah dan kalau ada yang salah itu dari diri saya sendiri.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s