TRADISI “ASSURO AMMACA” DALAM TINJAUAN SYARIAT (1)

Posted on

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

A.      PENDAHULUAN

     Dalam lingkungan masyarakat Isla, kita sering menyaksikan atau bahkan ikut melakukan ritual berdoa di atas hidangan makanan yang dilengkapi dengan aroma asap perdupaan, yang biasa di sebut “Assuro Ammaca. Ritual ini diakhiri dengan acara menyantap bersama makanan yang terhidang tersebut.

     Ritual seperti ini oleh sebagian besar masyarakat yang beragama Islam menganggapnya sebagai ibadah atau amalan yang harus dilakukan, terutama bila memasuki bulan ramadhan, hari lebaran, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, pada hari-hari tertentu kematian keluarga, ketika mendirikan rumah, pindah rumah,  beli kendaraan dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa ritual ini adalah bahagian dari ibadah Agama Islam karena dilakukan oleh sebahagian besar umat Islam dan sering kali di pimpin oleh imam-imam setempat. Sehingga orang yang meninggalkan ritual ini dianggap sebagai orang yang sesat atau dianggap pengikut muhammadiyah.

     Di satu sisi, ritual ini ada baiknya, yaitu adanya kesempatan untuk menyantap makanan yang enak atau mencicipi kue-kue tradisional atau berbagai jenis buah pisang, baik oleh keluarga maupun tetangga yang diundang. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa sebagian umat Islam yang lainnya tidak mau melakukan ritual seperti itu?. Apakah cara berdoa model “Assuro Ammaca” disyariatkan dalam Islam?. Kalau ritual seperti itu adalah sebuah adat warisan nenek moyang, apakah Islam membolehkan kita mencampuradukkan antara ajaran agama dengan ajaran adat? Betulkah masyarakat yang meninggalkan tradisi “Assuro Ammaca” adalah orang yang sesat?.

     Untuk mencari kebenaran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, mari kita kembalikan kepada ilmu yang diturunkan oleh Allah sebagaimana yang telah disampaikan dan di contohkan oleh Rasulullah SAW yang benar adalah yang sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul sedangkan yang salah atau sesat adalah amalan yang bertentangan dengan syariat Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

B.      DASAR DAN TUJUAN

     Ada beberapa pasal dalam Al Qur’an dan Hadits yang menjadi dasar bagi penulis untuk mengangkat tradisi ini sebagai bahan kajian, antara lain :

1.      Seruan Allah agar kita menjalankan Agama Islam dengan benar dan hanya mengikuti syariat yang diturunkan-nya “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (QS. Al Bayyinah : 5)

“Kami telah menjadikan kamu berada di atas syariat maka ikutilah syariat itu dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS. Al Jatsiyah : 18)

“ Bagi tiap-tiap umat telah kami tentukan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) itu (QS. Al Hajj : 67).

2.      Larangan Allah untuk mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil,”Janganlah kamu mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu menyembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah : 42)

“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al Israa : 36).

3.      Pernyataan Allah bahwa melakukan amalan yang hanya ikut-ikutan pada amalan orang banyak (manusia) adalah kerugian.

“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’aam : 116).

“ Sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya kalau begitu, kamu benar-benar (menjadi) orang yang merugi “ (QS. Al Mukminuum : 34)

“Apakah kamu akan mengikuti amalan bapak kamu, walaupun setan itu menyeru kamu kedalam siksa api yang menyala-nyala?” (QS. Luqman : 21).

4.      Ancaman Allah atas orang-orang yang mengambil ajaran di luar syariat Islam:

“Barang siapa yang berpaling dari Al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat “ (QS. Thaaha : 100).

“Adapun orang-orang yang menyimpan dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam” (QS. Al Jin : 15).

“Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan” (Qs. Al Imran 24 )

“kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang mereka ada-adakan “ (QS. Al An- am : 38).

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkannya), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (QS. Az Zukhruf :36).

5.      Pernyataan Rasulullah bahwa segala amalan (dalam agama) yang tidak disyariatkan dalam Al Quran atau Sunnah Rasul adalah tertolak atau sesat.

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya syariat kami maka tertolak (HR. Muslim).

“Jauhilah perkara baru yang diada-adakan, karena segala perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Daud).

           Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka tujuan penulis membahas masalah ini adalah :

1.      Agar kita sebagai umat Islam menyadari bahwa hanya kepada Allah kita berdoa dan cara berdoa telah diajarkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul-Nya maka hendaknya kita berdoa dengan cara yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan cara-cara yang lain.

2.      Agar kita menyadari bahwa berdoa dengan mengikuti cara tradisi orang tua adalah termasuk mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil, termasuk cara yang sesat. Sia-sia berdoa karena doa seperti itu akan ditolak.

3.      Agar kita menyadari bahwa cara-cara berdoa yang tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya adalah cara-cara yang diajarkan oleh syaitan yang hanya akan mengantar kita ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

4.      Agar kita menyadari bahwa syariat Allah hanya di dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Selain itu adalah ajaran yang bersumber dari hawa nafsu dan persangkaan orang-orang yang tidak mendapat petunjuk dari Allah.

5.      Agar kita sebagai umat Islam hanya terikat pada syariat Allah dan rasul-Nya dan tidak terikat pada ajaran-ajaran manusia yang seperti kita sendiri. Jangan hanya melihat pada banyak orang yang melakukan tetapi lihatlah dalilnya pada Al Quran dan Sunnah Rasul.(Selanjutnya baca: “Tradisi Assuro Ammaca dalam tinjauan syariat(2),(3) dan (4)”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s