TRADISI “ASSURO AMMACA” DALAM TINJAUAN SYARIAT (2)

Posted on Updated on

th_133

th_081
A. MENGENAL TRADISI “ASSURO AMMACA”
Di tinjau dAri namanya, “assuro ammaca” (Bahasa Makassar) terdiri dari dua kata, yaitu “assuro” yang artinya menyuruh atau meminta seseorang.” Dan “ammaca” yang artinya membaca suatu bacaan atau doa. Jadi “assuro ammaca” dapat diartikan sebagai kegiatan meminta seseorang (yang dianggap bisa) untuk membacakan suatu doa yang isinya permohonan untuk memperoleh sesuatu atau terhindar dari sesuatu sebagaimana yang di maksudkan oleh orang yang meminta.
Ritual ini sangat istimewa dimata masyarakat karena dilakukan melalui persiapan yang matang dengan pengorbanan waktu, tenaga dan materi, bahkan akidahpun dikorbankan. Adapun ciri khas ritual ini adalah :
1. Adanya makanan yang terhidang yang sengaja dipersiapkan untuk ritual ini. Makanan itu berupa daging (sapi atau kambing atau ayam) yang sengaja disembelih untuk ritual ini, nasi dari beras ketan, atau makanan ringan berupa kue tradisional dan atau buah pisang dari berbagai jenis.
2. Memakai perdupaan sebagai sarana pengundang roh, perantara doa atau pengusir roh jahat.
3. Bacaannya ada yang berupa mantra dan ada pula yang berupa surat-surat pendek dalam Al Quran (yang pahalanya dikirim kepada roh yang di maksud), dan doa-doa.
4. Dianggap sakral, antara lain berlangsung tertib, tenang dan khusyuk.
5. Biasanya dihadiri oleh tetangga – tetangga yang (diundang) atau orang – orang yang dianggap bisa berdoa.
6. Kadang dilengkapi dengan pembacaan barzanji dan menyanyikan lagu pujian yang terdapat dalam kitab al Barzanji tersebut dengan berdiri.
7. Diakhiri dengan acara makan bersama yaitu memakan makanan yang telah dibaca.
“Assuro ammaca” atau “assuru appalattulung” biasanya dilakukan di rumah atau di tempat-tempat tertentu seperti kuburan yang dianggap keramat, pohon besar, sungai-sungai dan tempat lainnya yang diyakin keramat.
Maksud dan tujuan “Assuro Ammaca” bermacam-macam antara lain :
1. Untuk menghilangkan atau menghindarkan keluarga dari berbagai macam kesialan / keburukan
2. Untuk memperoleh berkah berupa rekzi yang lancar, kesehatan atau kesembuhan.
3. Sebagai tanda kesetiaan kepada seseorang yang telah mati atau roh penghuni tempat keramat
4. Untuk memenuhi nazar yang telah diucapakan pada roh kuburan atau tempat yang dikeramatkan
5. Sebagai tanda / pengabdian seorang anak terhadap orang tuanya atau nenek moyangnya yang telah mati.
Ritual “Assuro Ammaca” ini biasanya dilakukan karena mengikuti tradisi orang tua saja (nenek moyang), atau karena anjuran seorang dukun dan atau ajaran guru-guru tariqat. Tata cara pelaksanaannyapun biasanya mengikuti petunjuk mereka.
katakan allah itu esa

B. ASAL MULA TRADISI “ASSURO AMMACA”
Asal mula tradisi “assuro ammaca” tidak lepas dari kepercayaan manusia sebelum datangnya Agama Islam di Indonesia.
Sebelum Agama Islam masuk ke Indonesia masyarakat Indonesia sudah lama mengenal kepercayaan dan pengabdian terhadap sesuatu yang memiliki kekuatan yang berpengaruh terhadap kehidupannya, antara lain animisme, dinamisme, hindhu, dan budha.
Animisme mengandung ajaran kepercayaan kepada roh yang dikandung oleh tiap-tiap benda baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa ( KBBI, 1996 : 42 ) sedangkan dinamisme mengandung ajaran kepercayaan kepada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari yaitu mempengaruhi keberuntungan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidupnya. ( KBBI, 1996 : 234).
Kepercayaan ini melahirkan amalan pemujaan dan pengharapan kepada benda atau tempat tertentu yang memiliki roh atau kekuatan gaib seperti gunung besar, pohon besar, batu besar, atau kuburan-kuburan yang dianggap keramat. Pemujaan berupa persembahan sesajian (makanan) dan pesta adat. Persembahan dan upacara tidak lepas dari perdupaan asap dan bau perdupaan diyakini sebagai sarana untuk menghadirkan roh yang dipuja, atau yang diberi sesajian.
Perkembangan selanjutnya adalah datangnya agama Hindu dan Budha yang kepercayaan dan amalannya tidak jauh beda dengan ajaran kepercayaan animisme dan dinamisme sehingga kedua agama ini bisa dengan muda diterima di Indonesia.
Begitupun halnya, ketika agama Islam masuk ke masyarakat yang sudah kuat dengan ajaran kepercayaan Hindu dan Budha. Para penyebar agama menempuh langkah menyesuaikan diri dengan kepercayaan masyarakat yang telah ada. Kalau tidak demikian maka para penyebar agama akan ditolak dan diusir di bumi nusantara ini. Para penyebar agama Islam itulah memadukan antara ajaran Islam dengan tradisi-tradisi masyarakat yang telah ada.
Adapun kepercayaan dan amalan masyarakat Islam yang merupakan pengaruh dari tradisi nenek moyang antara lain:
1. Mendatangi tempat atau kuburan orang saleh untuk berdoa, bernazar, mencari berkah dan berkurban.
2. Berdoa dengan memakai perdupaaan atau pada makanan / sesajian.
3. Mempersembahkan makanan kepada orang yang telah mati pada ritual “attumate”
4. Penyembelihan hewan untuk orang yang telah mati
5. Kepercayaan kepada waktu-waktu baik, waktu-waktu buruk dan berbagai macam takhyul / mitos.
6. Kepercayaan kepada dukun-duku / paranormal dan mendatanginya untuk menanyakan sesuatu, mencari berkah atau mengikuti ajaran-ajaran dukun.
7. Kepercayaan bahwa orang yang mati bisa berkeliaran di muka bumi atau bisa hidup kembali sebagai roh gentayangan, hantu, pocong, yang mendatangi rumahya pada waktu-waktu tertentu
8. Mengadakan ritual atau upacara “Appaenteng pangngadakkang” upacara pencucian benda pusaka, upacara persembahan sesajian di laut, ritual buang sial seperti korongtigi, annyongko bala, appasili’ dan lain-lain.
Tradisi – tradisi tersebut di atas masih tetap hidup dalam sebagian besar masyarakat Indonesia karena keberadaannya dilindungi/diakui oleh undang-undang, dan mereka menganggap sebagai suatu ibadah karena banyak umat Islam yang mengikutinya, lagi pula dipimpin oleh imam, ulama atau tokoh-tokoh agama.
Kelestarian tradisi “assuro ammaca” di tanah air ini tidak lepas dari peran ulama / kyai-kyai tradisional. Di katakan ulama tradisional karena merekalah ynag tetap melakukan dan mempertahankan kelangsungan tradisi-tradisi dari generasi ke generasi.
Pada tahun 1926 diadakan kongres Islam sedunia di Mekah oleh raja Abdul Azis ibnu Sa’ud yang mengundang dua ulama Indonesia, yaitu H. Umar said dari Sarekat Islam dan KH. Mas Mansyur dari Muhammadiyah.Para kyai tradisional waktu itu tidak menghadiri kongres.Mereka menyampaikan usul kepada kongres melalui kedua utusan Indonesia. Mereka meminta kepada kongres Islam agar tradisi-tradisi masyarakat seperti membangun kuburan, ziarah dan berdoa di kuburan keramat, dan tradisi lainnya tetap dihormati dan diamalkan oleh umat Islam. Usulan mereka ditolak karena kongres menilai bahwa usulan-usulannya itu bertentangan dengan Al Quran dan hadist yang mengandung kesyirikan dan kesesatan.

(bersambung ke bagaian 3 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s