TRADISI ATTUMATE DALAM TIMBANGAN SYARIAT (3)

Posted on Updated on

III. TRADISI ATTUMATE DALAM TINJAUAN SYARIAT ISLAM
Dalam masyarakat Islam, kita kadang menyaksikan atau bahkan ikut melakukan amalan-amalan yang tidak didapat dasar atau dalil yang mensyarIatkan amalan tersebut, artinya amalan tidak diperintahkan atau tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, melainkan ikut melakukan apa-apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita yang berlaku secara turun temurun. Amalan-amalan tersebut antra lain :
A. Amalan-Amalan Saat Penguburan Mayat
Ada beberapa amalan tradisi masyarakat ketika seseoang meninggal sampai penguburannya, antara ain :
1. Zikir air atau “zikkiri jeknek” yang dilakukan sebelum mayat dimandikan atau dishalati.
2. Membaca Al Qur’an atau surat Yasiin (yasinan) sebelum dimandikan. Amalan ini beretntangan dengan perintah Rasulullah SAW. “Bacakanlah yasiin atas orang-orang yang hampir mati diantara kamu” (HR. Abu Daud). Yasinan itu dilkukan sebelum seseorang mati bukan setelah mati.
3. Sibuk mempersiapkan tempat tidur atau makanan untuk Imam yang mengurusi penguburan mayat sebagai sedekah. Sedekah seperti ini salah sasaran, seharusnya sedekah itu diberikan kepada orang yang miskin, jadi “tidak sah sedekah bagi orang yang mampu” (HR. Abu daud dan Ibnu Majah).
4. Mengumandangkan adzan /iqamah pada saat penguburan mayat.
Amalan ini salah tempat, adzan dipakai sebagai panggilan untuk mendirikan shalat sedangkan iqamah dipakai sebagai peringatan bahwa shalat akan segera dilaksanakan. Apakah kita akan memanggil orang mati itu shalat dan yakinkan bahwa panggilan kita itu akan terdengar olehnya sedangkan di dunian saja tuli terhadap adzan di masjid.
5. Membakar dupa di sekitar mayat sebagai pengusir roh jahat. Ini termasuk amalan jahiliyah. Allah telah melarang kita mengamalkan amalan-amalan jahiliyah atau amalan yang bersumber dari tradisi nenek moyang (Q.S. Al Baqarah : 170 dan Luqman : 21).
6. Annyakbalak butta (membaca mantra pelunak tanah) sebelum menggali kuburan.
Membaca mantra untuk melunakkan tanah tidak berpengaruh terhadap tanah. Tanah yang berpasir tidak mungkin akan keras kalau tidak “disakbalak” dan tanah yang di bawahnya ada batu besar tidak akan mungkin menjadi lunak gara-gara “disakbalak”. Semua itu hanyalah mengikuti prasangka dan prasangka itu sedikitpun tidak berguna bagi kebenaran”.
7. Mengantar kepergian mayat dengan bacaan atau gerakan-gerakan tertentu, misalnya memutar keranda mayat tiga kali yang dilakukan oleh orang yang ditunjuk. Rasulullah tidak mengajarkan doa-doa tertentu untuk mengantar mayat meninggalkan rumahnya. Kecuali dianjurkan berdiri ketika mayat sedang diusung.
8. Mentalqin setelah dikuburkan. Amalan ini bertentangan dengan ajaran yang dicontohkan Rasulullah SAW; “Ajarkanlah orangorang yang hampir mati diantaramu Laa Ilaaha Illallah” (HR. Muslim). Yang dilakukan Rasulullah SAW setelah mayat dikuburkan adalah : “Berdiri di pinggir kubur dan berkata : “Mintakanlah ampunan bagi saudara kamu dan mintakanlah ketetapan baginya karena ia sedang ditanya” (HR. Abu Daud).
Adapun yang biasa dilakukan oleh orang-orang yaitu mentalqin setelah mayat dikuburkan, oleh sebagian Ulama Salaf menganggapnya sebagai amalan bid’ah karena mereka menganggap bahwa amalan itu hanya berdasar pada hadist lemah bahkan ada yang menganggap sebagai hadist palsu.
Mengajari perkara agama kepada orang yang telah meninggal itu adalah perbuatan yang sia-sia. Kalau orang itu saleh maka tanpa diajari pun dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di alam kubur. Karena pertanyaan-pertanyaan itu akan dijawab oleh amal shaleh yang dibawanya. Bagaimana dengan orang yang keras hatinya seperti batu yang tidak mau mendengar (tuli) terhadap seruan-seruan agama (dakwah), tuli terhadap ayat-ayat Allah, apakah mungkin setelah mati bisa mendengar dan mau menerima ajaran agama? Bagaimana mungkin bisa mendengar kalau di dunia saja tidak bisa mendengar. Bukankah kalau sudah tuli di dunia maka di akhirat akan lebih tuli lagi? Seperti halnya kalau buta (tidak melihat kebenaran) maka di akhirat akan lebih buta lagi
Wahai orang yag suka mentalqin orang yang telah mati baca dan pahamilah ayat-ayat Allah : “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar dan menjadikan orang-orang tuli dapat mendengar seruan. Apabila mereka berpaling ke belakang (Q.S. An Naml : 80 dan Ar Ruum : 52). “Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar” (Q.S. Fathiir : 22).

B. Amalan-Amalan Setelah Dikuburkan
Attumate bukanlah acara yang asing bagi masyarakat Islam. Bagi sebagian besar umat Islam, “Attumate terlah dianggap sebagai amalan yang harus dilakukan. Mereka beranggapan bahwa orang mati yang tidak “ditumatekan” sama halnya dengan seekor binatang yang mati. “Attumate” diyakini dapat memberikan kontribusi bagi keselamatan seseorang di dalam kubur. Intinya adalah mengirimkan mengirimkan makanan dan pahala bagi keluarga yang telah mati untuk keperluan hidupnya di alam kubur.
Adapun amalan-amalan yang dilakukan antara lain :
1. Berkumpul di rumah keluarga duka untuk membaca Al Qur’an, yang pahalanya dikirimkan kepada orang yang telah mati. Allah SWT mensyariatkan membaca Al Qur’an untuk dipahami dan diamalkan isinya. Barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya maka pahalanya untuk dirinya sendiri. Tidak ada satu pun hadist baik yang sahih maupun yang palsu yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan atau membaca Al Qur’an untuk orang yang telah mati, melainkan membaca untuk kebaikan diri sendiri. Seseorang yang ridak pernah membaca Al Qur’an tidak akan mungkin memperoleh balasan pahala yang baca Al Qur’an. Bukankah Allah telah menetapkan bahwa “seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Q.S. an Najm : 39). “Dan tidak dibalas kamu melainkan apa yang kamu kerjakan” (Q.S. al Israa : 15). Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kejakan” (Q.S.at Tahrim : 7). Beramai-rami membaca Al Qur’an bertentangan dengan perintah Allah SWT yaitu : “Apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. Al A’raaf : 204).
Amalan membaca Al Qur’an yang pahalanya diperuntukkan kepada orang yang telah mati itu bersumber dari mimpi seseorang. Dalam buku “petunjuk ke jalan yang lurus” diceritakan tentang dua orang yang bermimpi (tidak dijelaskan tentang sapa yang bermimpi, kapan dan orang mana ?). orang nyang pertama bermimpi melihat seseorang duduk-duduk di suatu tempat sedangkan sedang menyaksikan orang-orang sibuk memungut sesuatu. “Orang itu (pemimpi) bertanya bahwa apa yang mereka sedang pungut dan mengapa kamu tidak memungut seperti mereka?” Orang itu menjawab : “mereka sedang memungut sedekah-sedekah yang dikirm oleh keluarganya, sedangkan akumtidak perlu lagi seperti mereka karena setiap malam aku mendapat kiriman yang yang banyak dari anakku (orang itu membertahukn nama dan tempat tinggal anaknya). Setelah terbangun dari tidur, orang yang bermimpi mencoba mencari anak yang dimaksud dalam mimpinya. Setelah bertemu dan ditanya, anak itu menjawab :”Setiap malam aku banyak mengaji lalu pahalanya kukirm kepada orsng tuaku. Tidak lama kemudian anak itu pun mati dan orang itu bemimpi bertemu lagi dengan orang tua tadi etapi keadannya berbeda. Orang tua itu ternyata sibuk juga memungut sesuatu bersama yang lainnya.
Mimp kedua, seseorang memimpikan istri tetangganya yang beberapa waktu lalu meninggal. Dia melihat rumah itu penuh dengan perabot yang mewah dan berbagai perhiasan. Ketika ditanya, perempuan itu menjawab : “ini semua adalah kiriman dari suamiku”. Setelah terbangun, dia langsung mendatangi dan menanyai suaminya tentang apa yang selalu dikirim kepada istrinya yang telah meninggal. Suaminya itu menjawab, “Saya selalu mengaji sampai khatam (tamat) lalu pahalanya saya kirim kepada istriku”.
Mimpi bagi Nabi atau Rasul adalah wahyu dari Allah yang dapat dijadikan dasar suatu syariat. Tetapi setelah wafatnya Nabi SAW maka wahyu pun terputus, maka mimpi orang-orang (walaupun saleh) tidak bisa dijadikan dasar untuk mengamalkan sesuatu yang dimimpikan. Beda halnya ketika Nabi SAW masih hidup mimpi seseorang dapat dijadikan dasar syariat apabila mimpi itu telah disahkan oleh Nabi SAW sebagai suatu amalan Islam. Sebagai contoh Bilal tentang adzan panggilan shalat pengganti lonceng yang dilarang oleh Nabi SAW. Sekarang banyak mimpi yang menyesatkan seseoran. Hanya bermodalkan mimpi dia membentuk suatu perguruan yang mengamalkan apa yang diperolehnya dari mimpi maka tersesatlah dirinya dan pengikut-pengikutnya.
Sehubungan dengan orang yang telah mati, kita dibolehkan membaca Al Qur’an di rumah masing-masing setelah itu mendoakannya. Niat kita mengaji bukan untuk mengirim pahala baca Al Qur’an melainkan sebagai wasilah mudah-mudahan dengan membaca Al Qur’an Allah SWT berkenan mengabulkan doa kita untuk orang yang telah mati tersebut.
2. Berjamaah tahlilan untuk orang yang telah mati termasuk pula khataman atau “appatamma” Al Qur’an, adalah amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. “Segala amalan yang tidak pernah diajarkan atau tidak diamalkan Rasulullah SAW hendaknya ditinggalkan karena amalan itu tiada gunanya atau tertolak” (HR. Bukhari Muslim). Menghadiri suatu majelis zikir (tahlilan) atau pengajian hanya untuk memperoleh makanan(ka’do) dan sedikit uang sedekah hanya akan mengantar kita kepada kesesatan. Berzikir dan membaca Al Qur’an sampai tamat adalah ibadah apabila dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, tetapi bilamana kita menyalahgunakannya maka bukannya pahala yang didapat melainkan makanan dan uang yang berlumuran dosa.
Membaca tahlil “Laa Ilaaha Illallah” adalah zikir yang paling utama (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Kalimat itu akan membuat kita beruntung dengan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat (HR.bukhari). barangsiapa yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” dengan ikhlas (menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Allah SWT) pasti masuk surga (HR. Thabrani). Rasulullah SAW menganjurkan kita agar memperbanyak membaca “Laa Ilaaha Illallah” (HR. Abu Ya’la), karena kalimat itu mengandung banyak keutamaan kepada orang-orang yang mengucapkannya dan tidak bermanfaat sedikitpun bagi orang yang tidak mengucapkannya. “Laa Ilaaha Illallah” adalah kunci surga (HR. Ahmad)yang dapat menghapus catatan amal buruk dan diganti dengan kebaikan (HR. Abu Ya’la).
Banyaknya keutamaan membaca “Laa Ilaaha Illallah” bukan berarti kita dapat mengucapkan semau kita, tetapi tetap mengikuti petunjuk dan contoh yang diberikan Rasulullah SAW. Baik pada waktu maupu pada tempat yang telah ditentukan.
Berkumpul untuk berzikir yang disyariatkan adalah berkumpul di masjid atau suatu tempat melakukan zikir mengharap ridho Allah, dan tidak disyariatkan berkumpul dimrumah keluarga duka untuk berzikir yang diperuntukkan kepada orang yang telah mati. Berkumpul-kumpul berzikir sebagaimana yang disyariatkanoleh Rasulullah SAW menyebutnya sebagai taman surga “Apakah taman surga itu? Yaitu majelis zikir (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
3. Baca-baca “kirim” makanan untuk keluarga di alam kubur.
Amalan ini bertentangan dengan syariat dan akal yang sehat. Makanan orang dunia adalah untuk jasmani manusia sedangkan makanan orang di alam kubur (rokhani) adalah makanan khusus berdasarkan amal yang dibawanya. Selain amalan ini bertentangan dengan Al Qur’an (Q.S. Anjm : 39, At Tahrim : 7, atau Al A’raaf: 204)dan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah juga secara akal sehat bahwa tidaklah mungkin makanan yang terbuat dari materi keduniaan akan sampai kepada alam kubur (materi keakhiratan). Halusnya makanan dunia tidak akan sampai ke alam kubur melainkan dinikmati oleh bangsa jin bila padanya tidak dibacakan basmalah (HR. Muslim).
Baca-baca makanan berupa berdoa dengan memakai perdupaan termasuk peniruan terhadap kaum jahiliyah atau umat Hindu dan mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil sebagaimana yang dilarang oleh Allah SWT (Q.S. Al baqarah:42).
Makanan yang kita sajikan kepada orang yang telah mati itu tidak akan sampai kepada sasaran. Roh orang yang telah dikubur tidak akan bisa ke alam dunia untuk mencari makanan karena alam kita dibatasi oleh dinding yang tidak bisa ditembus oleh siapapun kecuali yang dikehendaki Allah (Malaikat). Mereka akan tetap di alam kubur sampai dibangkitkan pada hari kiamat (Q.S. Al Mukminuun : 100). Kalau makanan itu dikirim ke alam kubur, siapa yang akan membawanya ke sana? Masing-masing Malaikat sibuk bekerja dengan tugasnya masing-masing. Tidak ada Malaikata yang bertugas membawa makanan dari alam dunia ke alam kubur karen masing-masing alam tersedia makanan. Tidak mungkin alam kubur ditimpa kelaparan dan menunggu bantuan makanan dari orang-orang dunia. Kalau halusnya makanan kita, menurut keterangan Rasulullah itu dinikmati oleh bangsa jin bukan Malaikat dan bukan pula roh manusia.
4. Menyembelih hewan untuk orang yang telah mati
Menyembelih hewan untuk orang yang telah mati tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang disyariatkan adalah bahwa hewan itu disembelih untuk dimakan oleh orang yang hidup berupa kurban, aqikah, memuliakan tamu, dan menjamu undangan pesta.
Islam tidak mengenal Aqikah untuk orang tua apalagi yang telah mati. Aqikah itu adalah untuk anak yang baru lahir yang disembelih pada hari ketujuh kelahirannya (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Yang dilakukan oleh oang tua untuk anaknya (HR. Abu Daud dan Ahmad) bukan oleh anak untuk orang tuanya. Hewan aqikah itu adalah tebusan (amanah) atas kelahiran anak tersebut ((HR. Tirmidzi) bukan sebagai kendaraan manusia di alam akhirat.
Menyembelih hewan atas nama orang mati termasuk perbuatan yang dilarang Allah (Q.S. al Maaidah : 3). Jadi dilarang menyembelih dan dilarang pula memakannya. Sedangkan menyembelih hewan untuk menjamu tamu-tamu yang diundang untuk melayat adalah perkara bid’ah, karena tidak seharusnya keluarga berduka sengaja menyiapkan makanan untuk para pelayat, dan tidak seharusnya pula pelayat-pelayat itu diundang untuk makan.
5. Cuci rumah dengan barzanji
Mencuci rumah dengan maksud membuang sial atas meninggalnya seorang anggota keluarga adalah perbuatan yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang disyariatkan Allah adalah membaca Al Qur’an di dalam rumah untuk membebaskan rumah dari gangguan-gangguan syetan.
Kematian anggota keluarga bukanlah suatu kesialan, dan anggota keluarga lainnya tidak tertimpa kesialan hanya karena kematian salah satu anggota keluarga, melainkan telah ditetapkan oleh Allah SWT. Lagi pula apa hubungannya barzanji dengan ketetapan Allah?
‘jika Allah menimpakan suatu keburukan kepadamu,maka tidak ada yang menghilangkanyya kecuali dia sendiri.”( Q.S Al AN’AM ayat 17 ).
“ Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( lauh mahfudz ) sebelum kami menciptakanyya.” ( Q.S Al Hadid : 72 )
“ Maka sekali-sekali kamu tidak akan mampu menolak / menhalangi sesuatupun yang datang dari Allah “ (Q.S Al Maidah : 41 ).
Perkara yang disyariatkan adalah membersihkan rumah dari kotoran-kotoran ,dari benda-benda yang dapat mengundang syetan masuk ke rumah dan menghiasi rumah dengan memperbanyak membaca Al Quran, zikir dan shalat sunat.
6 Makan-makan di rumah keluarga yang berduka
Acara puncak dari “ Attumate” adalah makan-makan “ pesta “ di rumah keluarga yang berduka.Masyarakat Islam yang taat pada amalan ini menganggap acara ini harus dilakukan,selain malu bila tidak melakukanyya juga takut dihina oleh masyarakat atau dianggap sebagai anak yang tdak berbakti kepada orangtuanya.Mereka mempersiapkan acara lalu mengundang keluarga /kerabat untuk makan-makan dan adapula yang mengisinya dengan ceramah islamiah.
Bila keluarga yang berduka termasuk orang yang kurang mampu,maka sebaiknya kita amalkan anjuran Rasulullah untuk melayat dan membawakan makanan untuknya bukan menambah kesusahan dengan makan-makan di rumahnya.Jangan sampai mereka mengutang hanya untuk menjamu para pelayatatau melakukan amalan yang tidak dsyariatkan.
Bila keluarga yang berduka temasuk orang yang mampu,maka menyediakan makanan bagi pelayat tidak menjadi masalah atau tidak merepotkanyya,Cuma masalahnya adalah karena Allah dan Rasul tidak mensyariatkan kita untuk menyediakan makanan seperti pesta lalu mengundang kerabat/ keluarga ke rumah makan makanan yang enak,padahal keluarga kita yang mati belum tentu enak hidupnya di alam kubur.
Begitupun ceramah ,tidak disyariatkan mengundang penceramah untuk menceremahi para undangan yang telah makan , yang disyariatkan adalah melayat ke rumah orang yang berduka lalu menghiburnya dengan nasehat untuk bersabar.Lagipula yang membawakan Ta’ziah untuk keluarga yang berduka tidak perlu mengharap atau menerima amplop karena ta’ziah telah dijamin pahalanya oleh Allah.
Menghadiri undangan adalah wajib pada acara yang disyariatkan , tetapi menhadiri undangan makan di rumah keluarga yang berduka bukanlah wajib,kerana bukanlah amalan yang disyariatakan . Tetapi bila diundang dan ingin memenuhinya dengan alasan menjaga hubungan silaturahmi , artinya tetap menjaga jangan sampai makanyya sama dengan makan di pesta perkawinan. Makanlah sekedar untuk menghormati tuan rumah dan hindarilah makan makanan persembahan, yaitu daging sembelihan untuk/ atas nama orang yang telah mati,seperti kambing,sapi, atau kerbau.
7. Peringatan hari kematian ( Haul ).
Allah dan Rasulnya tidak mensyariatkan amalan memperingati hari kelahiran,hari ualng tahun,atau kematian seseorang.Yang disyariatkan untuk diperingatidalam Islam hanyalah hari kemenangan( Idul Fitri ) pada setiap 1 syawal dan hari qurban ( Idul Adha ) pada setiap 10 Zulhijjah. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan atau melakukan peringatan hari kematian untuk orang tua atau anak-anaknya,dan para sahabat Tabi’in dan tabi’ut tabi’in tidak ada yang pernah melakukan seperti ini.
Beda dengan sebagian besar uamt Islam, banyak membuat dan melakukan peringatan-peringatan, antara lain peringatan hari kematian keluarganya seperti peringatan 3 hari, 7 hari, 20 hari, 40 hari, 100 hari, dan satu tahun kematiannya. Inti dari peringatan tersebut adalah keluarga yang ditinggalkan dengan sengaja memberitahukan/mengundang keluarga/kerabat untuk berkumpul di rumah keluarga duka, makan-makan yang diawali dengan membaca Al Qur’an atau tahlilan, dan baca-baca makanan untuk keluarga yang telah meninggal dan ditutup dengan ziarah kubur.
Allah dan Rasul-Nya hanya mengajarkan amalan mengingat keluarga kita yang muslim melalui do’a-do’a kepada Allah untuk keseleamatannya di alam sana, baik dengan menziarahi kuburannya atau seusai shalat dan pada do’a khutbah kedua shalat Jum’at, untuk kaum muslimin dan muslimat, yang hidup, dan yang telah mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s